
Ruteng – Kementerian Kesehatan RI bersama Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur melakukan Audit Maternal Perinatal (AMP) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng, yang akan berlangsung selama 2 hari (25-26 Juni 2025).
Audit Maternal Perinatal ini merupakan suatu kegiatan untuk menelusuri penyebab kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir (perinatal) dengan tujuan mencegah kejadian serupa di masa depan.
Direktur Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan, drg. Yuli Astuti Saripawan, M.Kes Penjaminan Mutu Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan bahwa AMP merupakan upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
Tujuan AMP Mencegah kesakitan dan kematian: Dengan meneliti penyebab kematian ibu dan bayi, AMP membantu mengidentifikasi faktor risiko dan area yang memerlukan perbaikan dalam pelayanan kesehatan.
Tujuan lainnya adalah Meningkatkan kualitas pelayanan: Hasil audit digunakan untuk menyusun rekomendasi dan tindak lanjut yang bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi, termasuk aksesibilitas dan kesiapan fasilitas kesehatan.
Senada dengan drg. Yuli Astuti, Ronal Raya, SKM., M.Kes., Analisis Kesehatan Ibu dan Anak, Dinas Kesehatan Provinsi NTT menjelaskan Audit juga bertujuan Membangun budaya non-blame. Karena itu AMP berfokus pada pembelajaran dan perbaikan sistem, bukan mencari kesalahan individu.
Selain itu Meningkatkan koordinasi dan kolaborasi. Pelaksanaan AMP melibatkan berbagai pihak terkait, termasuk lintas sektor, untuk memastikan pelayanan yang terintegrasi dan responsif.
Audit ini tambah Ronal sesuai perintah Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena. Dan selain RSUD Ruteng terdapat 3 RSUD lain yang diaudit.
Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Kabupaten Manggarai, Frumencius L.T. Kurniawan, SE., menyampaikan Terima Kasih atas kesediaan Direktur Penjamin Mutu dan Dinkes NTT yang melakukan kegiatan Audit AMP di RSUD Ruteng.
Dirinya berharap hasil Audit akan menjadi rekomendasi dalam mengatasi masalah kematian Ibu dan Bayi di Kabupaten Manggarai, yang pada tahun 2024, terdapat 14 Kasus.
