Ruteng, Diskominfo-Berbagai persiapan dilakukan dalam rangka memeriahkan Festival Golo Curu, salah satunya press conference yang merupakan bagian dari promosi Festival Golo Curu. Press Conference ini dihadiri oleh, Ketua Umum Panitia FGC Th. Yosefus Nono , Kepala Dinas Pariwista dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai, Aloisius Jebarut, S.Pd., Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng, RD. Dr. Martin Chen, Ketua Pelaksana RD. Pepi Bora, beserta insan pers.
Festival Golo Curu merupakan kegiatan spiritual untuk memperteguh dan merayakan iman umat kepada Yesus Kristus Sang Penebus melalui Bunda-Nya Perawan Maria. Melalui Festival Golo Curu, iman itu dapat diselebrasi dengan meriah, mengena dan partisipatif. Lebih dari itu, iman juga harus meresapi seluruh aspek kehidupan manusia.
Hal ini terungkap dalam pekan pameran UMKM festival yang dibuka resmi pada tanggal 3 Oktober 2025. Tidak hanya itu, selama pekan festival juga diselenggarakan berbagai pentas seni yang menyajikan keindahan dan keunikan kultural Manggarai yang berpadu dengan atraksi kultural Nusantara. Serta ibadat ekologi yang dilakukan pada tanggal 5 Oktober 2025. Adapun kegiatan sosial karitatif terungkap iman yang peduli dan bersolider melalui pembagian sembako kepada kelompok rentan.
Dalam press conference yang dilaksanakan pada Selasa, 30 September 2025 bertempat di Aula Puspas Ruteng, Ketua Umum Panitia FGC Th. Yosefus Nono menyampaikan Devosi rakyat kepada Bunda Maria Ratu Rosari telah menyatu dengan suka duka hidup sehari-hari orang Manggarai, termasuk perjuangan mencari nafkah.
“Karena itu, Maria disebut juga “Ende Pati Mose Nai” (Ibu yang peduli dan terlibat dengan pergumulan hidup anaknya)” tuturnya.
Ia mengatakan Festival Golo Curu ingin mengekspresikan kehidupan religi kultural orang Manggarai yang dibangun dalam devosi kepada Bunda Maria dan tradisi mengolah kehidupan khususnya melalui budaya kopi.
Tarian kolosal yang menjadi puncak karnaval budaya pada tanggal 6 Oktober akan memamerkan dengan memukau lingkaran biji rosario yang memantulkan kesatuan orang Manggarai dengan yang Ilahi, dengan komunitas adatnya serta dengan alam semesta.
“Festival Golo Curu ingin mengekspresikan kehidupan religi kultural orang Manggarai yang dibangun dalam devosi kepada Bunda Maria dan tradisi mengolah kehidupan khususnya melalui budaya kopi” kata Yosefus Neno.
Di tahun 2025 ini Keuskupan Ruteng berfokus pada program Ekaristi Transformatif yang sekaligus membingkai lingkaran 10 tahun implementasi Sinode III Keuskupan Rufeng, 2016-2025.
“Dalam Ekaristi orang meniımba kekuatan rahmat ilahi yang menginspirasi dan menggerakan seluruh dinamika kehidupannya, sekaligus dalam Ekaristi orang menemukan kebahagiaan hidupnya yang sejati dalam perjumpaan dengan Kristus, dan Maria, sang Tabernakel Ekaristi” jelasnya.
Festival golo curu ini diselenggarakan dalam kerja sama yang erat dan harmonis antar Gereja dan Pemda Kabupaten Manggarai, serta melibatkan berbagai stake holder lainnya Kerja sama jejaring inilah yang kiranya menjadi model kebersamaan Gereja dan Pemerintah serta masyarakat dalam mewujudkan tanah Nuca Lale yang makmur dan Bahagia.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwista dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai, Aloisius Jebarut, S.Pd., menyampaikan partisipasi pemerintah Kabupaten Manggarai dalam mendukung keberlangsung Festival Golo Curu.
“ Tahun ini kita sudah menjalankan festival golo curu yang ke-4 dan ini merupakan kolaborasi yang cukup baik, ditahun ini diharapkan lebih baik lagi”ungkap kadis pariwisata.
Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Manggarai melalui Dinas Pariwisata mendukung sepenuhnya pelaksanaan kegiatan ini yang sektornya ada di keuskupan Ruteng. Festival ini akan berpengaruh pada wistawan dalam negeri masupun wisatawan mancanegara.
“Tentu bagi kami melalui festival, point pentingnya adalah mengundang atau mendatangkan wisatawan asing maupun wisatwan lokal. Jadi ketika kita terus menjalankan event seperti ini, itu akan berdampak nyata pada pariwisata di kabupaten Manggarai”pungkasnya.
Dalam pelaksanaan festival juga kelompok ekonomi kreatif (ekraf) yang ada di dinas pariwisata akan terlibat langsung dalam festival ini.
Melalui festival Golo Curu kiranya komunitas iman Gereja semakin rekat berpadu (nai ca anggit, tuka ca leleng), kehidupan ekonomi umat semakin Sejahtera.
