Pemerintah Kabupaten Manggarai

BUPATI MANGGARAI
DR.DENO KAMELUS,SH.MH

WAKIL BUPATI MANGGARAI
DRS. VICTOR MADUR

Update terbaru:

Post terbaru

First Previous

Daftar agenda

Next Last

Link Banner

Kerja 3ersama

Website Prov NTT

infopublik

Dokumentasi Hukum

BPS Kabupaten Manggarai

LPSE Kabupaten Manggarai

POTENSI PERTAMBANGAN BAHAN GALIAN

Tanggal update: 14 Jan 2016 10:55, oleh: Admin

A.  Mineral Non Logam

Berdasarkan hasil inventarisasi data sekunder dan pengamatan lapangan, bahan galian non logam di Kabupaten Manggarai adalah sirtu, batuan silika, tras, batugamping, feldspar, dan Zeolit.

      1.   Sirtu

Sirtu yang ditemukan di Kabupaten Manggarai adalah berupa sirtu darat dan sirtu sungai. Sirtu darat berupa produk batuan gunungapi muda umumnya terdiri dari anglomerat, dicirikan dengan bentuk komponen bundar. Sedangkan sirtu sungai merupakan hasil rombakan dari batuan yang lebih tua, berupa endapan aluvial. Beberapa tempat penggalian sirtu sungai di Kabupaten Manggarai telah diusahakan dengan alat berat untuk keperluan pembuatan jalan dan konstruksi fisik lainnya, lokasi sirtu sungai terdapat di daerah Iteng dan Reo. Luas Endapan Sirtu ini terbatas, umumnya hanya mengisi pada kelokan sungai (endapan meander)  atau dataran banjir.

Adapun endapan sirtu darat berasal dari produk gunungapi muda berupa aglomerat dengan komponen andesit dan basal dengan ukuran fragmen dari kerikil sampai bongkah dengan masa dasar pasir volkanik. Hubungan antara fragmen dan masa dasar sifatnya lepas, artinya mudah dipisahkan. Pasirnya berwarna abu-abu kehitaman, setempat mengandung potongan kayu yang telah menjadi arang.  Sirtu darat tersebut diantaranya terdapat di Kecamatan Ruteng.

Lokasi sebaran sirtu dengan potensi sumber dayanya sangat bervariasi, diantaranya di lokasi Weol sebesar 22,5 juta meter kubik; Meler sebesar 2,25 juta meter kubik.

2.  Batuan Silika

Batuan silika yang terdapat di Kampung Weol, Desa Wae Belang, Kecamatan Ruteng merupakan bukit kecil dengan luas + 15 Ha, dengan beda tinggi dari dasar lembah + 25 meter, sumber daya hipotetik sekitar 3.000.000 m3. Batuan silika berwarna abu-abu keputihan, setempat terutam bagian atas berwarna putih kecoklatan.  Batuan silika ini mengandung SiO2 sebesar 94,96 % dan secara petrografi merupakan batuan tersilisifikasi.

Berdasarkan hasil pengujian Balai Besar Keramik pada salah satu contoh (Si1A) setelah dibakar dengan suhu 1.200 C mempunyai susut bakar –0,42%, susut jumlah –2,36 %, penyerapan air 20,10 % dengan memberikan warna putih kotor dan mengembang.

3.  Tras

Di Kabupaten manggarai banyak dijumpai batuan gunungapi, yang menempati bagian tengah ke selatan memanjang dari barat ke timur memungkinkan terbentuknya bahan galian tras, antara lain dijumpai di Kecamatan Ruteng dan Kampung Wae Reno, Desa Ranaka, Kecamatan Wae Rii. Bahan galian ini berwarna putih kecoklatan sampai putih kemerahan, berukuran halus sampai pasir, setempat mengandung komponen dengan diameter antara 0,25 m—0,5 m, tanah penutup berkisar antara 1—2 meter, perkiraan luas sebaran bahan galian tras di Kabupaten manggarai +250 Ha dengan sumber daya hipotetik sekitar 300.000.000 Ton.

Di Kecamatan Wae Rii terdapat  6 lokasi penggalian tras oleh penduduk setempat yang dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Pada umumnya merupakan tanah perorangan yang diusahkan menjadi tambang tradisional. Merupakan perbukitan bergelombang lemah dengan vegetasi berupa semak belukar dan di beberapa tempat terdapat tanaman keras.

Berdasarkan hasil analisis petrografi terhadap contoh komponen yang tersebar secara tidak merata pada bahan galian tras diketahui jenis andesit dengan komposisi plagioklas 50 %, piroksen 10 %, hornblenda 3 %, biotit (trace), mineral opak 3 %, lempung 5 %, gelas 28 % dan oksida besi 1 %.

Berdasarkan hasil uji kuat tekan dari Balai Besar Keramik terhadap contoh tras didapatkan bahwa komposisi tras dengan perbandingan tras : semen = 3: 1 dan 6 : 1 memenuhi syarat mutu bata merah pejal (kelas 25 = 25 Kg/cm2).

4.   Batugamping

Batugamping belum banyak dimanfaatkan, kecuali sebagai bahan bangunan dan pengeras jalan. Penduduk yang memanfaatkan bahan galian ini adalah di Kecamatan Reo. Batugamping ini berasal dari Formasi Bari. Berdasarkan hasil laboratorium Direktorat Invetarisasi Sumber Daya Mineral (DIM) tahun 1996, dari beberapa contoh mempunyai kandungan CaO 48,49 % - 52,62 %, MgO 2,48 %, Fe2O3 0,13—0,40 %. Luas keseluruhan diperkirakan sekitar 500 Ha, dengan sumber daya hipotetik batugamping di Kabupaten Manggarai sekitar 1.500.000.000 Ton.

Berdasarkan hasil analisis Kimia bahwa nilai CaO dapat melebihi 50 % maka batugamping di daerah ini dapat dipergunakan sebagai kapur padam (kapur tohor) yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan dan lebih jauh lagi dapat dibuat menjadi bahan baku kalsium karbonat (sebagai bahan baku PVC, farmasi, dll).

5.   Andesit

Andesit umumnya merupakan fragmen dari breksi dan lava. Secara umum berwarna hitam dan masif, kecuali andesit lava memperlihatkan sheeting joint. Ditambang secara tradisional untuk keperluan pembuatan jalan. Dijumpai di Kecamatan Reo dan Kecamatan Satar Mese. Bahan galian andesit merupakan sisipan dan komponen satuan batuan breksi, sehingga tidak mempunyai sebaran yang cukup luas dan agak sulit untuk menentukan sumber dayanya.

6.  Felspar

Felspar dijumpai berupa tufa dasit dari Formasi Kiro yang terubah. Terdapat di Desa Mondo, Kecamatan Reo batuan tersingkap di tepi jalan beraspal menuju Reo, strukturnya telah terganggu sehingga struktur kekar meniang menjadi tidak teratur dan saling berpotongan. Batuan berwarna putih kecoklatan, kompak dan keras.

Bahan galian ini terdapat pada perbukitan dengan kemiringan di atas 45o sedangkan pada sisi barat  antara 30o—40o terletak di bagian timur. Perbukitan tersebut mempunyai ketinggian antara 75—100 meter tertutup tanah penutup berwarna kehitaman dengan tebal 50—125 cm sebagian berupa vegetasi semak belukar. Pada daerah ini sering terjadi longsoran hingga terputusnya hubungan antara Reo—Ruteng, terlebih lagi pada saat musim penghujan. Daerah ini merupakan areal yang mempunyai vegetasi yang relatif jarang, dan didominasi oleh semak belukar.

Sifat fisik felspar berwarna abu-abu kecoklatan, keras, kompak, mudah hancur apabila dipukul mengikuti pola kekar, pecahan konkoidal, membentuk pola kekar yang sempurna.

Dari hasil analisis kimia kadar K2O 1,72—2,83% dan Na2O 1,82—2,39 % ( DIM, 1996 ). Sedangkan dari hasil bakar, masa gelasnya banyak berbentuk dengan bintik hitam, karena kadar Fe2O3 cukup tinggi sekitar 1,8%. Sedangkan hasil uji bakar pada suhu pembakaran 1.2000 C yaitu susut bakar 6,90%, penyerapan air 0,58%, warna bakar krem muda. Suhu pembakaran 1.3000 C benda uji telah melebur sempurna, dengan menampakkan sifat-sifat sudah terbentuk massa gelas, homogenitas warna bakar putih agak abu-abu berkilap, tidak menampakkan pori-pori ( CV. Patria Jasa, 1996/1997 ).

Berdasarkan hasil analisis keramik tersebut maka felspar di daerah ini dapat dipergunakan sebagai bahan pelebur dalam pembuatan barang keramik stoneware atau porselen. Sebaran ±25 ha dengan ketinggian 40 meter dihitung dari daerah datar di sekitarnya. Sumber daya hipotetik sebesar 1..000..000 ton. Berdasarkan pengamatan singkapan di lapangan, maka disarankan penambangan dengan sistem tambang terbuka ( open pit ) tetapi perlu diperhatikan masalah kestabilan lereng disekitarnya mengingat daerah tersebut mudah sekali mengalami longsoran. Penambangan harus dilakukan secara selektif karena tingkat alterasi yang ada belum homogen sehingga akan mudah tercampur dengan batuan asalnya yaitu tuf dasitik.

7.   Zeolit

Endapan zeolit tersingkap di tebing jalan antara Reo dan Desa Kajong, tersebar berupa poket-poket di 2 lokasi. Bahan galian zeolit berwarna putih abu-abu sampai putih kehijauan, butiran halus sampai sedang, dengan tebal lapisan yang tersingkap berkisar antara 1,5 sampai 2 meter, tanah penutup berupa batugamping klastik dan lapukan tufa dengan tebal antara 1 sampai 1,5 meter. Sebaran diperkirakan mencapai 50 Ha.

Berdasarkan hasil analisis XRD paa tiga contoh zeolit (Ze-1, Ze-2 dan Ze-3) diperoleh komposisi mineral antara lain anorhit, montmorilonit, kalsit, kuarsa dan muskovit. Dan berdasarkan hasil analisis kimia mempunyai nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK/CEC berkisar antara 37,46-60,81 dengan derajat keasaman (pH) antara 6,00-7,30 dan mempunyai berat jenis antara 2,4-2,58. Nilai Kapasitas Tukar Kation yang dihasilkan masih rendah apabila zeolit tersebut dimanfaatkan sebagai penjernih air atau limbah namun untuk kegunaan lain seperti pakan ternak atau penetral kejenuhan tanah dalam pertanian perlu penyelidikan lebih lanjut.

B.   Mineral Logam

1.   Biji Besi

Mineral Biji Besi terdapat di Desa Nggorang, Kecamatan Reok. Potensi sumber daya mineral ini diperkirakan sebesar 671.000 ton dan belum dieksploitasi.

2.   Emas

Bahan galian emas terdapat di beberapa lokasi di Kabupaten Manggarai. Dari Laporan Eksplorasi PT. International Dunlap Mineral Corporation, 1998 di Wae Dara, Desa Kajong, Kecamatan Reok terdapat  Emar dengan kadar rata-rata Cu:15%, Au=0,3 g/t tebal 5,7 m, cadangan 200.000 ton. Selain itu data base bahan galian logam Direktorat Inventasisasi Sumber Daya Mineral menunjukkan beberapa lokasi keterdapatan bahan galian emas.

3.   Timah

Hasil Inventarisasi Sumber Daya Mineral yang dilaksanakan atas kerja sama Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Manggarai dan Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa di Kabupaten Manggarai juga terdapat Timah.

4.   Mangan

Mangan merupakan bahan galian yang banyak ditemukan di Kabupaten Manggarai, khususnya di Kecamatan Reok dan sebagian di Kecamatan Cibal. Di Kecmatan Reok bahan galian mangan ini ditemukan di beberapa tempat antara lain : di Wangkal, Ropang, Maki Bajak, Lemarang. Sedangkan di Kecamatan Cibal ditemukan di Wae Ajo Desa Wae Renca, Wae Pateng Desa Riung dan Timbang Desa Ladur.

Dari laporan-laporan Perusahaan yang pernah melakukan eksplorasi potensi bahan galian mangan di Kabupaten Manggarai dapat diketahui bahwa kadar Mangan rata-rata berkisar antara 30 % - 45 %.  Singkapan mineralisasi mangan ditemukan berasosiasi dengan satuan Batugamping dan Satuan Breksi dimana terjadi saat Breksi dialtrasi termineralisasi oleh proses Volkanik membentuk magnetit dan mangan, selanjutnya ditransport dan terjebak dengan batugamping. Pergerakan pengangkatan pada Holosen  menyebabkan mangan tersingkap di lereng bukit sampai ke bagian atas bukit. (Sumber Buku Informasi Potensi Pertambangan Manggarai, 2011)